Hari Nyamuk Sedunia: Cara Melindungi Anak dari DBD dan Malaria

Setiap 20 Agustus diperingati sebagai Hari Nyamuk Sedunia (World Mosquito Day) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa nyamuk bukan sekadar serangga yang mengganggu, tetapi juga dapat menjadi pembawa berbagai penyakit, termasuk demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.
Bagi orang tua, perlindungan anak dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mencegah gigitan nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengenali gejala penyakit sejak dini.


DBD dan Malaria, Apa Bedanya?


DBD disebabkan oleh virus dengue dan terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang aktif pada siang hari. Gejalanya dapat berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam. Pada sebagian kasus, dengue dapat berkembang menjadi kondisi berat yang membutuhkan penanganan medis segera.


Sementara itu, malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Anopheles yang terinfeksi. Gejala awal umumnya berupa demam, sakit kepala, dan menggigil. Malaria dapat berkembang menjadi penyakit berat apabila tidak segera ditangani. Anak, terutama usia di bawah lima tahun, termasuk kelompok yang berisiko mengalami malaria berat di wilayah dengan penularan malaria.


Di Mana Risiko Malaria Lebih Tinggi?


Malaria masih ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia, dengan beban kasus yang sangat terkonsentrasi di Tanah Papua. Hingga Juli 2026, Kementerian Kesehatan menyebut lebih dari 90% kasus malaria nasional masih berasal dari Tanah Papua.
Risiko malaria juga masih terdapat di sejumlah wilayah lain di Indonesia, terutama di beberapa daerah di kawasan Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT) serta wilayah tertentu lainnya. Status risiko dapat berbeda antarwilayah dan dapat berubah seiring pelaksanaan program eliminasi malaria.


Karena itu, orang tua perlu lebih waspada apabila anak tinggal di atau bepergian ke daerah yang masih memiliki risiko malaria. Perlindungan dari gigitan nyamuk, seperti menggunakan pakaian tertutup, repelan, dan kelambu, tetap penting dilakukan. Jika anak mengalami demam setelah berada di daerah berisiko malaria, segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.


Kementerian Kesehatan juga memiliki Peta Endemisitas Malaria yang membagi wilayah berdasarkan status eliminasi, endemis rendah, sedang, dan tinggi. Karena penyebab demam dapat beragam, demam pada anak tidak selalu berarti DBD atau malaria. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.


Langkah Sederhana Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk


Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mengurangi risiko gigitan dan perkembangbiakan nyamuk.
1. Lindungi Kulit Anak
Gunakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang ketika berada di lingkungan yang banyak nyamuk. Repelan juga dapat digunakan sesuai petunjuk pada produk dan batas usia. WHO merekomendasikan penggunaan repelan dengan bahan aktif tertentu, seperti DEET, picaridin, atau IR3535.
2. Gunakan Kelambu saat Tidur
Kelambu dapat menjadi perlindungan tambahan bagi anak saat tidur. Di wilayah berisiko malaria, penggunaan kelambu berinsektisida merupakan salah satu upaya penting untuk mengurangi paparan gigitan nyamuk.
3. Terapkan 3M Plus
Cegah perkembangbiakan Aedes aegypti dengan menerapkan 3M Plus, yaitu:
Menguras tempat penampungan air secara rutin
Menutup rapat tempat penyimpanan air
Mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk
• Melakukan langkah Plus, seperti menggunakan obat antinyamuk, memasang kasa pada jendela dan ventilasi, serta memeriksa tempat yang berpotensi menampung air
Periksa juga pot tanaman, ember, ban bekas, tempat minum hewan, dan benda lain yang dapat menampung air, terutama setelah hujan.
4. Jaga Lingkungan Rumah
Pastikan lingkungan rumah tetap bersih dan tidak memiliki genangan air. Pencegahan akan lebih efektif jika dilakukan secara rutin dan melibatkan seluruh anggota keluarga.
5. Lengkapi Perlindungan dengan Vaksinasi
Selain mencegah gigitan dan perkembangbiakan nyamuk, vaksinasi dapat menjadi salah satu langkah pencegahan tambahan terhadap penyakit tertentu.
 
Untuk DBD, vaksinasi dapat menjadi bagian dari upaya perlindungan terhadap dengue pada anak yang memenuhi kriteria sesuai jenis vaksin dan rekomendasi tenaga kesehatan. Vaksinasi DBD tidak menggantikan 3M Plus maupun upaya mencegah gigitan nyamuk, sehingga keduanya tetap perlu dilakukan secara bersamaan.


RS Indriati Solo Baru menyediakan layanan vaksinasi melalui Klinik Imunicare. Untuk mengetahui kesesuaian vaksinasi DBD bagi anak, termasuk jenis vaksin, usia, dan jadwal pemberian, orang tua dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.


Kenali Tanda Bahaya pada Anak


Orang tua perlu waspada ketika anak mengalami demam, terutama jika disertai gejala lain atau kondisi semakin memburuk.
Pada dengue, tanda bahaya dapat berupa nyeri perut hebat, muntah berulang, perdarahan dari hidung atau gusi, darah pada muntahan atau tinja, lemas berat, kulit pucat dan dingin, serta kesulitan bernapas. Tanda-tanda tersebut membutuhkan pertolongan medis segera.
Pada malaria, demam dapat disertai sakit kepala dan menggigil. Jika anak mengalami penurunan kesadaran, kejang, kesulitan bernapas, atau semakin lemah, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Diagnosis dan pengobatan dini penting untuk mencegah malaria berkembang menjadi kondisi berat.
Jangan menganggap demam sebagai sakit biasa jika disertai tanda bahaya. Segera konsultasikan kondisi anak kepada tenaga kesehatan.


Lindungi Kesehatan Anak Bersama RS Indriati Solo Baru


Pencegahan penyakit akibat nyamuk dapat dimulai dari rumah. Namun, ketika anak mengalami demam atau gejala yang mengkhawatirkan, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
RS Indriati Solo Baru menyediakan layanan kesehatan anak, termasuk Poli Tumbuh Kembang, untuk membantu memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk kondisi yang membutuhkan penanganan segera, Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Indriati Solo Baru melayani 24 jam.


Dokter Spesialis Anak RS Indriati Solo Baru


Untuk mendukung pelayanan kesehatan anak, RS Indriati Solo Baru menyediakan layanan Dokter Spesialis Anak yang dapat membantu pemeriksaan, diagnosis, serta penanganan berbagai masalah kesehatan anak.
Dokter Spesialis Anak:
• dr. Astri Tantri Indriani Sp.A., Subsp. Neo, M.Kes.
• dr. Bagus, Artiko, SpA.(K)
• dr. Ida Farida Nurohmah, M.Kes., Sp.A.
• dr. Muhammad Riza, Sp.A.(K), M.Kes.
• dr. Pongky Suryo Triwati, Sp.A.
• dr. Tatag Nurhidayat, Sp.A.
• dr. Tita Natalia Manurung, Sp.A., M.Ked.Klin
• dr. Agustina Wulandari, Sp.A., Subsp. Nefro(K)., M.Kes


Dokter Poli Tumbuh Kembang:
• Prof. Dr. dr. Harsono Salimo, Sp.A.(K)
• dr. Lisa Marisa, IBCLC
Dengan dukungan dokter dan layanan kesehatan anak, RS Indriati Solo Baru siap membantu orang tua menjaga kesehatan dan mendukung tumbuh kembang buah hati.
 
Konsultasikan Kesehatan Anak Anda


Lindungi anak sejak dini. Cegah gigitan nyamuk, terapkan 3M Plus, lengkapi vaksinasi sesuai rekomendasi, kenali gejalanya, dan jangan ragu berkonsultasi dengan dokter ketika anak membutuhkan pemeriksaan.
 
RS Indriati Solo Baru
Jl. Palem Raya, Langenharjo, Sukoharjo, Jawa Tengah
Call Center: (0271) 572 2000
IGD 24 Jam: (0271) 572 2999
Untuk informasi jadwal dokter, layanan, dan reservasi, masyarakat dapat menghubungi RS Indriati Solo Baru melalui kontak resmi atau mengakses website rumah sakit

Jam Operasional Poli Umum Kami

07.00 - 20.00 WIB