Malaria adalah penyakit yang mengancam jiwa dan ditularkan ke manusia oleh beberapa jenis nyamuk. Penyakit ini sebagian besar ditemukan di negara-negara tropis. Malaria dapat dicegah dan diobati. Infeksi ini disebabkan oleh parasit dan tidak menyebar dari orang ke orang. Bayi, anak-anak di bawah 5 tahun, wanita hamil dan anak perempuan, pelancong, dan orang dengan HIV atau AIDS memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi parah.
Malaria dapat dicegah dengan menghindari gigitan nyamuk dan dengan obat-obatan. Pengobatan dapat mencegah kasus ringan menjadi lebih parah. Malaria sebagian besar menyebar ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi . Transfusi darah dan jarum yang terkontaminasi juga dapat menularkan malaria. Gejala awalnya mungkin ringan, mirip dengan banyak penyakit demam, dan sulit dikenali sebagai malaria. Jika tidak diobati, malaria P. falciparum dapat berkembang menjadi penyakit parah dan kematian dalam waktu 24 jam.
Terdapat 5 spesies parasit Plasmodium yang menyebabkan malaria pada manusia dan 2 di antaranya – P. falciparum dan P. vivax – menimbulkan ancaman terbesar. P. falciparum adalah parasit malaria paling mematikan dan paling umum di benua Afrika. P. vivax adalah parasit malaria dominan di sebagian besar negara di luar Afrika sub-Sahara. Spesies malaria lain yang dapat m Menurut laporan malaria dunia terbaru, terdapat 282 juta kasus malaria pada tahun 2024, meningkat sekitar 9 juta kasus (3%) dibandingkan dengan tahun 2023. Perkiraan jumlah kematian akibat malaria mencapai 610.000 pada tahun 2024 dibandingkan dengan 598.000 pada tahun 2023.
Wilayah Afrika WHO terus menanggung beban malaria global yang sangat tinggi secara tidak proporsional. Pada tahun 2024, wilayah ini menjadi tempat sekitar 95% dari semua kasus dan kematian akibat malaria. Anak-anak di bawah usia 5 tahun menyumbang sekitar 76% dari semua kematian akibat malaria di wilayah tersebut.
Lebih dari separuh dari seluruh kematian di Wilayah tersebut terjadi di tiga negara: Nigeria (31,9%), Republik Demokratik Kongo (11,7%), dan Niger (6,1%). Anak-anak di bawah usia 5 tahun menyumbang sekitar 75% dari seluruh kematian akibat malaria di Wilayah tersebut menginfeksi manusia adalah P. malariae, P. ovale , dan P. knowlesi .
Pemerintah memandang malaria masih sebagai ancaman terhadap status kesehatan masyarakat terutama pada rakyat yang hidup di daerah terpencil. Hal ini tercermin dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor: 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Naional tahun 2015 - 2019 dimana malaria termasuk penyakit prioritas yang perlu ditanggulangi. Salah satu tantangan terbesar dalam upaya pengobatan malaria di Indonesia adalah terjadinya penurunan efikasi pada penggunaan beberapa obat anti malaria, bahkan terdapat resistensi terhadap klorokuin. Hal ini dapat disebabkan antara lain oleh karena penggunaan obat anti malaria yang tidak rasional. Sejak tahun 2004 obat pilihan utama untuk malaria falciparum adalah obat kombinasi derivat Artemisinin yang dikenal dengan Artemisinin-based Combination Therapy (ACT). Kombinasi artemisinin dipilih untuk meningkatkan mutu pengobatan malaria yang sudah resisten terhadap klorokuin dimana artemisinin ini mempunyai efek terapeutik yang lebih baik.
Penyebab Malaria adalah parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Dikenal 5 (lima) macam spesies yaitu: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae dan Plasmodium knowlesi. Parasit yang terakhir disebutkan ini belum banyak dilaporkan di Indonesia.
1. Malaria Falsiparum.
Disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Gejala demam timbul intermiten dan dapat kontinyu. Jenis malaria ini paling sering menjadi malaria berat yang menyebabkan kematian.
2. Malaria Vivaks.
Disebabkan oleh Plasmodium vivax. Gejala demam berulang dengan interval bebas demam 2 hari. Telah ditemukan juga kasus malaria berat yang disebabkan oleh Plasmodium vivax.
3. Malaria Ovale.
Disebabkan oleh Plasmodium ovale. Manifestasi klinis biasanya bersifat ringan. Pola demam seperti pada malaria vivaks.
4. Malaria Malariae.
Disebabkan oleh Plasmodium malariae. Gejala demam berulang dengan interval bebas demam 3 hari.
5. Malaria Knowlesi.
Disebabkan oleh Plasmodium knowlesi. Gejala demam menyerupai malaria falsiparum.
Gejalanya bisa ringan atau mengancam jiwa. Gejala ringan meliputi demam, menggigil, dan sakit kepala. Gejala berat meliputi kelelahan, kebingungan, kejang, dan kesulitan bernapas.
Gejala awal malaria yang paling umum adalah demam, sakit kepala, dan menggigil. Gejala biasanya mulai muncul dalam waktu 10–15 hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi.
Gejala mungkin ringan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya. Karena beberapa gejala malaria tidak spesifik, melakukan tes sedini mungkin sangat penting. Beberapa jenis malaria dapat menyebabkan penyakit parah dan kematian. Bayi, anak-anak di bawah 5 tahun, wanita hamil, pelancong, dan orang dengan HIV atau AIDS memiliki risiko lebih tinggi. Gejala parah meliputi:
1. kelelahan dan keletihan yang ekstrem
2. kesadaran terganggu
3. kejang berulang
4. kesulitan bernapas
5. urin berwarna gelap atau berdarah
6. penyakit kuning (penguningan mata dan kulit)
7. pendarahan abnormal.
Penderita gejala berat harus segera mendapatkan perawatan darurat. Mendapatkan pengobatan sejak dini untuk malaria ringan dapat mencegah infeksi menjadi parah. Infeksi malaria selama kehamilan juga dapat menyebabkan kelahiran prematur atau kelahiran bayi dengan berat badan rendah.
Malaria dapat dicegah dengan menghindari gigitan nyamuk dan dengan mengonsumsi obat-obatan. Bicaralah dengan dokter tentang mengonsumsi obat-obatan seperti kemoprofilaksis sebelum bepergian ke daerah-daerah di mana malaria umum terjadi. Kurangi risiko terkena malaria dengan menghindari gigitan nyamuk:
1. Gunakan kelambu saat tidur di tempat-tempat yang terdapat wabah malaria.
2. Gunakan obat pengusir nyamuk (mengandung DEET, IR3535 atau Icaridin) setelah senja.
3. Gunakan koil dan alat penguap.
4. Kenakan pakaian pelindung.
5. Gunakan kasa jendela.