Puasa Ramadan sering bikin ibu menyusui bertanya-tanya: “Boleh puasa nggak ya?”
Jawabannya: bisa saja pada beberapa ibu, selama kondisi ibu dan bayi aman. Tapi kalau tubuh sudah memberi “alarm” seperti dehidrasi atau ASI menurun, sebaiknya jangan dipaksakan.
Secara umum, ibu menyusui boleh berpuasa bila:
kondisi ibu fit,
bayi tetap nyaman,
produksi ASI stabil,
kebutuhan makan-minum saat sahur & berbuka tercukupi.
Namun, tiap ibu berbeda. Ada yang aman puasa, ada juga yang cepat drop. Kuncinya: pantau sinyal tubuh ibu dan tanda pada bayi.
Kadang tubuh sudah memberi alarm, tapi kita nggak sadar. Ibu perlu waspada jika mengalami:
Mulut sangat kering, pusing, berkunang-kunang
Urin kuning pekat dan jumlahnya sedikit (jarang BAK)
Lemas berat sampai sulit aktivitas, jantung berdebar
Kulit terasa sangat kering, sakit kepala berat
Mual berlebihan atau terasa seperti mau pingsan
Kalau tanda-tanda ini muncul, segera minum dan evaluasi apakah puasa perlu dihentikan hari itu. Ingat: dehidrasi pada ibu menyusui bisa berdampak ke kondisi tubuh dan produksi ASI.
ASI itu “dibuat” dari kombinasi:
✅ cairan + ✅ kalori + ✅ istirahat + ✅ frekuensi menyusu/pompa
Saat puasa, produksi ASI bisa turun jika:
Kurang minum dari sahur sampai berbuka
Kalori kurang (makan terlalu sedikit atau tidak seimbang)
Kurang tidur / stres
Bayi lebih jarang menyusu atau ibu jarang memompa (payudara jarang “dikuras”)
Jadi, bukan puasanya yang otomatis bikin ASI drop, tapi faktor pendukungnya yang sering “ikut berantakan”.
ASI drop tidak selalu terasa dari payudara. Justru yang paling terlihat biasanya dari bayi, misalnya:
Bayi rewel terus setelah menyusu
Popok pipis berkurang dari biasanya
Bayi tampak kurang aktif / lemas
Berat badan sulit naik bila terjadi berlanjut
Kalau ibu ragu, coba pantau dulu jumlah popok basah dan perilaku bayi selama 1–2 hari.
1) Jangan “asal buka”
Yang sering terjadi: berbuka cuma gorengan + teh manis → kenyang sebentar, lalu cepat lemas.
Usahakan saat sahur & berbuka tetap makan seimbang:
karbohidrat (nasi/ubi/oat)
protein (telur/ayam/ikan/tahu-tempe)
sayur
buah
lemak baik (alpukat/kacang/minyak zaitun)
2) Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi (pakai pola)
“Minum banyak” itu ada polanya. Coba pola 2–4–2:
2 gelas saat berbuka
4 gelas antara berbuka sampai tidur
2 gelas saat sahur
Tanda hidrasi cukup: urin kuning muda dan pipis teratur.
Pertimbangkan stop puasa / tidak melanjutkan jika:
Tanda dehidrasi jelas: pusing berat, urin pekat, lemas ekstrem
ASI turun signifikan dan popok pipis bayi berkurang
Ada kondisi medis tertentu atau riwayat komplikasi
Prioritas utama tetap kesehatan ibu dan bayi.
Kalau ibu sedang puasa dan mulai muncul keluhan seperti pusing, lemas berat, urin pekat, atau merasa ASI menurun, sebaiknya jangan menebak-nebak sendiri.
RS Indriati Solo Baru siap membantu lewat konsultasi dengan dokter spesialis (termasuk layanan konseling laktasi) untuk evaluasi kondisi ibu & bayi serta menyusun strategi sahur–berbuka yang lebih aman.
Hubungi/WhatsApp 08112665352 untuk daftar konsultasi di RS Indriati Solo Baru.
Biar puasanya tetap nyaman, dan ASI tetap aman untuk si kecil.
07.00 - 20.00 WIB